Bekti Dwi Hastuti

Guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1Grogol, Sukoharjo...

Selengkapnya

UNTUK SESEORANG YANG MEMBUATKU TEGAR (Buat sahabatku, Edy, yang telah menginspirasi)

Aku tak akan menyalahkan siapapun kalau jalan hidupku tak semulus yang lain. Garis Tuhan lebih nyata dan tepat untuk semua hamba-Nya. Aku terlahir dari keluarga yang dapat dibilang berkecukupan dibanding tetangga sekitar. Aku selalu bersyukur punya orang tua yang siap dan selalu ada memenuhi apa yang aku pinta. Tidak seperti teman-temanku yang harus antre dan merengek untuk meminta sesuatu. Tapi, semua manis itu hanya sekejap. Kebahagiaan keluargaku sedikit demi sedikit terkikis hingga akhirnya habis. Ini dikarenakan ayah yang menjadi sosok kebanggaan dan idola kami (aku, ibuku, dan ketiga adikku) tlah mengalihkan perhatian dan sayangnya ke tempat lain. Lenyaplah rasa kagum kami. Ayah memaksa kami selalu menelan rasa pahit yang sengaja ia berikan pada kami. Kami tak pernah mengira ayah akan begitu kejam menusuk-nusuk hati kami. Begitu sangat terluka dan sempat terbersit ucap aku tak ada maaf untuknya. Bayangkan, aku masih terlalu kecil untuk menanggung beban seberat itu. Saat itu aku masih butuh sosok pembuka terang hidupku, tapi harus dihadapkan pada satu kenyataan. Ya, kenyataan pahit karena ayah tlah memilih jalannya sendiri. Saat itu aku merasa jadi anak yang paling malang. Teman yang lain bisa bebas bercurah hati dan ke mana-mana dengan ayah mereka. Aku tak bisa. Aku harus berjibaku menggandeng ibu dan menuntun tiga adikku. Aku memaksakan diri untuk ambil alih fungsi ayah. Aku harus bisa jadi tumpuan harapan dan tumpahan tangis ibu dan adik-adikku. "Ed, hidup kita tak boleh berakhir dan berhenti di jalan. Tolong selalu pegang tangan ibu untuk bisa antar adik-adikmu memetik bintang yang diinginkan. Jangan pernah sekalipun kau lepaskan." pesan Ibu "Yakinlah, Bu. Pasti kita akan bisa dan terus berjalan. Ada aku yang slalu siap pegang erat tangan Ibu agar tak ada satupun yang henti di tengah jalan. Optimislah, Ibu. Ada Tuhan yang slalu menuntun dan menunjukkan jalan kita." Akhirnya kami berpelukan bersimbah tangisan. Setelah itu, aku berjanji tak akan ada air mata lagi. Aku harus kuat dan bisa untuk ibu dan adikku. Aku harus bisa membuat mereka slalu tersenyum sehingga lupa akan luka hatinya. Terlalu panjang dan menyakitkan semua yang tlah aku lakukan untuk mewujudkan janjiku pada ibu. Kini aku bisa bernapas lega dan tersenyum lebar menyaksikan perjuanganku tunjukkan buahnya. Ketiga adikku tlah menggenggam bintang. Ibuku akhirnya bisa juga bersujud di tanah sucinya Allah SWT. Kembali tak hentinya kami panjatkan syukur. Satu yang membuat aku semakin yakin akan kebesaran Tuhan, yang selalu berpihak pada hamba-Nya yang ikhlas menerima takdirnya. Ada rasa sedih luar biasa di tengah senyuman kami. Tuhan punya kehendak lain, ayah yang jauh nun di sana tlah berpulang tanpa ada kami di sampingnya. Meski bertahun kami harus menyembunyikan luka, tapi akhirnya aku bisa berlapang dada dan menerima seutuhnya, semua yang terjadi tak satupun yang keluar dari skenario Illahi. Alhamdulillah, aku dan ibu sudah sempat memaafkan jauh sebelum ayah tiada. Hanya agaknya ada berselisih sedikit dengan adikku dan aku bisa memakhluminya. Akhirnya dengan sedikit kata lembutku, adik-adikku bisa menerimanya. "Ibu, maafkan aku sebelumnya. Izinkan aku untuk membuktikan bahwa anakmu ini berbakti dan bukan anak durhaka pada orang tua. Izinkan aku untuk membawa jenazah ayah ke rumah kita dan biarlah nanti makam ayah selalu ada di dekat kita. Sehingga kapan pun kita bisa dan menemui untuk berbagi cerita yang belum sempat kita bagi." "Untuk adikku semua, biarlah hanya makam ayah yang kita punya dan menemani hari-hari kita. Maafkan dan jangan hukum ayah kita. Tanpa kalian menghukumnya, ayah pasti sudah merasa terhukum di hari-hari menjelang dipanggil-Nya. Jadilah kalian anak yang bisa dibanggakan dan berjiwa besar, bersyukurlah, dan berjanjilah tak akan mengulang cerita kelam di keluarga kalian masing-masing. Kita harus bisa mengambil sesuatu yang baik dan manis dari sesuatu yang buruk dan pahit. Sore itu kami pun kembali menjatuhkan tangis yang berpuluh tahun tak bisa jatuh.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali